Aku pernah hidup dengan satu tikar tipis selama tiga bulan.
Bukan kasur empuk.
Bukan kamar yang nyaman.
Hanya lantai, tikar lusuh, dan badan yang dipaksa terbiasa dengan keadaan.
Awalnya sulit.
Punggung sering pegal saat bangun tidur.
Kadang malam terasa panjang karena dingin masuk lewat lantai.
Tapi lama-lama aku sadar… manusia ternyata bisa terbiasa dengan banyak hal, termasuk kekurangan.
Setiap pagi aku bangun bukan memikirkan kemewahan, tapi bagaimana caranya bertahan sampai besok lagi.
Hari Sabtu dan Minggu yang biasanya jadi waktu orang jalan-jalan, justru jadi hari paling sunyi buatku.
Aku keluar menyusuri warung-warung kecil di daerahku, mencari makanan paling murah yang masih bisa mengenyangkan perut.
Kadang nasi bungkus sederhana.
Kadang mie.
Kadang hanya teh hangat dan gorengan.
Anehya, aku tidak benar-benar merasa menderita.
Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Mungkin karena saat hidup sedang berada di bawah, kita jadi belajar menghargai hal kecil.
Aku belajar kalau kenyang itu nikmat.
Tidur walau hanya di atas tikar tetap bisa membuat kita bersyukur.
Dan ternyata, hidup tidak selalu tentang punya banyak hal.
Tiga bulan itu mengubah caraku melihat dunia.
Sekarang aku mengerti…
orang yang pernah hidup susah biasanya bukan ingin dikasihani.
Mereka hanya sedang belajar menjadi kuat tanpa banyak suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih